Di Jawa, porang kerap disebut iles-iles atau suweg. Porang sendiri merupakan tumbuhan semak (herba) yang memiliki tinggi pohon rata-rata 100 – 150 cm, dengan umbi tunggal yang berada di dalam tanah. Tangkai daun porang tumbuh tegak, lunak, dan memiliki permukaan yang halus ketika diraba, serta berwarna hijau atau kehitaman. Dan, pada setiap pertemuan batang akan tampak seperti tonjolan berwarna coklat atau kerap disebuat katak, yang berfungsi sebagai alat perkembangbiakan vegetatif.
“Prospek porang, saat ini dan ke depan saya rasa makin cerah. Karena untuk porang, di Jawa Timur sendiri sudah ada banyak buyer yang siap menampung porang dari petani, baik yang masih basah atau yang sudah dibuat chip (diiris tipis dan dikeringkan). Saat ini bahkan sudah banyak pabrik tepung porang yang membutuhkan mitra kerjasama dengan petani yang berada di sekitar hutan atau yang memiliki pohon tegakan.” Ujar Harijadi seorang wirausahawan pembudidaya porang saat ditemui di kawasan hutan pinus, pegunungan Lawu, plaosan.
Menurut Hariyadi, budidaya tanaman porang memiliki nilai ekonomi yang tinggi, karena tanaman ini ternyata memiliki berbagai kandungan yang berguna untuk industri kesehatan. Seperti kandungan zat Glucomanan yang bisa digunakan untuk bahan campuran pembuatan kapsul. Selain itu, tepung dari porang bisa juga digunakan untuk bahan baku lem, agar-agar, mi, tahu, pembuatan roti, hingga kosmetik. “Iles-iles ini merupakan tanaman jenis umbi-umbian yang paling mudah dibudidayakan, selain itu tingkat panennya yang termasuk tinggi. Umbi porang dalam satu pohon bisa mencapai bobot 5 kg, jika perawatan tanaman porangnya benar. 1 kg porang basah (yang baru dipanen) dihargai pabrik sekitar 3000, sedangkan jika porang tersebut sudah di proses menjadi chip, harga bisa melambung menjadi 22000.” Tambah Hariyadi kepada team wartawirausaha.com.
Media atau tanah yang akan ditanami porang tidak terlalu khusus, bahkan, menurut Hariyadi tanah di dataran tinggi maupun rendah sama bagusnya untuk membudidayakan porang ini. Namun demikian, agar porang tumbuh dengan baik dan subur, kondisi tanah sebaiknya tanah yang gembur dan sedikit berpasir serta tidak becek (tergenang air). Hariyadi juga menambahkan, untuk jarak tanam porang bisa berapa saja, asal tidak terlalu rengkat.
“Tanaman porang memiliki sifat khusus, yaitu membutuhkan cahaya matahari maksimum hanya sampai 40%. Wirausaha budidaya porang akan lebih baik jika saling terintegrasi dengan pohon tegakan atau dengan memaksimalkan lahan hutan. Karena inilah, saya beserta para kelompok tani dari berbagai desa di Plaosan mencoba membudidayakan porang di bawah tegakan pohon pinus. Sehingga ke depan kita bisa mengeksplore hutan-hutan di pegunungan Lawu ini untuk ditanami porang.” Ungkap Hariyadi.
“Daripada hutan-hutan pinus ini ditebang lalu dialihfungsikan menjadi lahan pertanian, maka bukankah lebih baik, jika kami kombinasikan area hutan ini dengan budidaya porang. Nilai ekonomi untuk masyarakat tetap dapat, selain itu hutan juga tetap terjaga kelestariannya.” Ujar pria yang memiliki pengalaman cukup lama dalam membudidayakan porang ini.
Meskipun porang masuk dalam tumbuhan semak, dan cukup mudah dalam pengembangbiakkan, namun Hariyadi tetap akan memperlakukan porang sebagai tanaman yang potensial, yaitu dengan merawat sebaik-baiknya. Salah satu perawatan yang wajib untuk porang adalah pemberian pupuk selama 2 kali dalam sekali masa panen atau 7 bulan.
“Untuk pemberian pupuk, kami berusaha menggunakan pupuk organik, sehingga efek ke depan bagi tanah juga akan bagus. Dalam sekali masa panen atau 7 bulan, kami lakukan pemupukan 2 kali.
“Untuk pemberian pupuk, kami berusaha menggunakan pupuk organik, sehingga efek ke depan bagi tanah juga akan bagus. Dalam sekali masa panen atau 7 bulan, kami lakukan pemupukan 2 kali.
Agar hasil lebih maksimal, penanaman umbi porang bisa dilakukan pada awal musim hujan. Setelah porang ditanam, dan hujan pertama turun, langsung di pupuk.” Tambah hariyadi.
Kendala yang biasa dihadapi oleh petani porang biasanya tidak terlalu mencemaskan. Hal ini karena porang merupakan tumbuhan yang cukup kuat dan tahan akan hama. Namun, karena peluang usaha tanaman ini belum dikembangkan secara maksimal mengenai fungsi dan penggunaannya, hal ini membuat ketersediaan bibit porang khususnya umbi belum maksimal.
Kendala yang biasa dihadapi oleh petani porang biasanya tidak terlalu mencemaskan. Hal ini karena porang merupakan tumbuhan yang cukup kuat dan tahan akan hama. Namun, karena peluang usaha tanaman ini belum dikembangkan secara maksimal mengenai fungsi dan penggunaannya, hal ini membuat ketersediaan bibit porang khususnya umbi belum maksimal.
0 komentar:
Posting Komentar